Cintaku, Cintamu Juga Kah?
"Upss, malem-malem kok ngomongin cinta ry, kayak ga ada topik lain aja! kan masih belum cukup umur!" *nyempil di pojokan*.
"Nah lo! Kata siapa yang belum cukup umur gak boleh ngomongin cinta? Lagian, udah 19 tahun gini dibilang belum cukup umur?" *melotot*
"Kan belon boleh nikah ama emak?" *nyengir-nyengir*
"Yee masalah cinta gak mesti berhubungan dengan nikah kalee. Bisa aja cinta kepada orang tua, kepada guru, kepada sahabat, bahkan cinta yang utama, kepada Allah dan Rasulnya!".
*manggut-manggut* "Oh ya ya. Terus yang mau kamu bahas cinta kepada siapa? Bukan cinta kepada lawan jenis kan?"/
"Emang kenapa kalau cinta kepada lawan jenis? :P okeoke bukan cinta yang itu kok. Kali ini yang mau ary bahas adalah cinta kepada Rasul Allah alias Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Kamu pasti mengerti kan atau setidaknya pernah dengar, cinta kepada Nabi kita, Nabi Muhammad kan? Persepsimu seperti apa tentang kalimat itu? Kalau menurutku nih ya, cinta kepada Nabi Muhammad ini ya kita mencintai beliau, sebagaimana kita mencintai orang tua, guru dan sahabat, bahkan seharusnya lebih besar."
"Engg kalau menurutku yaaa kamu mengatakan cinta kepada beliau hanya dibibir saja. Bagaimana bisa kamu yakin kamu mencintai beliau? Bukankah kamu tak pernah bertemu dengannya? Tak pernah mendengar suaranya? Bahkan paras beliau saja kau tak tahu?".
*menatap menyelidik* "Kau kan sama! Jangan bilang tak terbesit sedikitpun rasa cinta untuk beliau di hatimu? Ckck. Memang, aku tak pernah berjumpa dengannya, mendengar suaranya, tapi aku sedikit tahu tentang perjuangan beliau memperjuangkan hak Islam dan ummatnya pada jaman beliau dulu! Yang paling berkesan adalah ketika beliau sakaratul maut, masih menyebut dan menanyakan hak-hak ummatnya kepada malaikat Jibril. Kamu mau ku ceritain kisahnya gak?".
"Nggg jangan galak-galak dong :| iya iya aku mau dengar!".
"Oke, dengarkan baik-baik yaa.
Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat
kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,
burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah
dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada
dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah
kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Al Qur'an dan Sunnah. Barang
siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang
yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada
didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. " Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?"
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada
didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. " Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?"
*menyeka ujung mata* hiks. Bayangkan, bahkan di saat akhir hayatnya beliau masih memikirkan ummatnya, "timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada ummatku." *menangis lagi*. Bahkan yang dipanggilnya di ujung nafasnya bukan anak kesayangannya, fatimah. Bukan pula cucu kesayangannya, hasan dan husein. Tapi ummatii, ummati, ummatku!. Aku selalu menangis kalau mengingat kisah ini.".
*ikut menangis* "Hiks. Ternyata demikian besar cinta beliau kepada kita ya. Sungguh rugi kalau sudah dicintai, tapi tak membalas cintanya."
"Benar! Adalagi suatu kisah yang diriwayatkan dalam hadits Imam Ahmad,
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu,
diriwayatkan suatu ketika selepas shalat shubuh, seperti biasa
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam duduk menghadap para
sahabat. Kemudian beliau bertanya,
“Wahai manusia siapakah makhluk Tuhan yang imannya paling menakjubkan?”.
“Malikat, ya Rasul,” jawab sahabat.
“Bagaimana malaikat tidak beriman, sedangkan mereka pelaksana perintah Tuhan?” Tukas Rasulullah.
“Kalau begitu, para Nabi ya Rasulullah” para sahabat kembali menjawab
“Bagaimana nabi tidak beriman, sedangkan wahyu dari langit turun kepada mereka?” kembali ujar Rasul.
“Kalau begitu para sahabat-sahabatmu, ya Rasul”.
“Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan. Mereka
bertemu langsung denganku, melihatku, mendengar kata-kataku, dan juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri tanda-tanda kerasulanku.” Ujar Rasulullah.
bertemu langsung denganku, melihatku, mendengar kata-kataku, dan juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri tanda-tanda kerasulanku.” Ujar Rasulullah.
Lalu Nabi Shallallahu alaihi wasallam terdiam sejenak, kemudian dengan lembut beliau bersabda,
“Yang paling menakjubkan imannya,” ujar Rasul
“adalah kaum yang datang sesudah kalian semua. Mereka beriman
kepadaku, tanpa pernah melihatku. Mereka membenarkanku tanpa pernah
menyaksikanku. Mereka menemukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka
mengamalkan apa-apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka membela aku
seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan
saudara-saudaraku itu.”
Kemudian, Nabi Shallallahu alaihi wasallam meneruskan dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 3,
“Mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, dan menginfakan sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka.”
Lalu Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Berbahagialah orang yang pernah melihatku dan beriman kepadaku” Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengucapkan itu satu kali.
“Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah
melihatku.” Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengucapkan kalimat kedua
itu hingga tujuh kali.
kau bisa bayangkan betapa kita ini adalah ummat yang paling dirindunya, ketika kita mencintai beliau, kita yang belum pernah melihat beliau. Kitalah yang dirindu Nabi Muhammad."
"Maasyaa' Allaah. Dalam hatiku jadi makin muncul perasaan cinta kepada beliau. Beliau yang lebih dulu mencintai kita."
"Dan satu lagi, kalau kepada orangtua, guru, sahabat dan bahkan kepada Rasul kita bisa sangat cinta. Lalu bagaimana cinta kita kepada yang menciptakan rasa cinta? Yang memberi segala yang kita butuhkan? Tentu harus lebih cinta! Jika tak terbesit cinta itu, tanya dirimu, hatimu masih adakah? Atau jangan-jangan hatimu kotor dan terlalu gelap sehingga tidak layak untuk mencinta dan dicinta-NYA. pun berlaku untuk diriku sendiri. Cintaku, Cintamu Juga Kah?"
Allahumma Shalli 'Ala Sayyidina Muhammad, wa 'Ala Ali Sayyidina Muhammad. :')